Pages

Subscribe:

Mengenai Saya

Foto saya
Mahasiswi Komunikasi Universitas Islam Indonesia 2010.

Sabtu, 26 Januari 2013

Yogyakarta get international tourism award


Yogyakarta kembali mendapatkan penghargaan pariwisata internasional untuk kategori The Best Print Advertisement dari Tourism Promotion Organization (TPO) for Asia Pacific Cities yang berpusat di Korea Selatan (Korsel). Ini merupakan penghargaan keempat secara berturut-turut sejak 2009, dengan kategori berbeda.

Penghargaan diberikan kepada Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta (BP2KY) saat pertemuan TPO ke-5 di Penang, Malaysia, 19 September lalu. BP2KY rencananya akan menyerahkan penghargaan tersebut kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta 30 Oktober mendatang.


Direktur Pelaksana BP2KY Artin Wuriyanti mengatakan bahwa pada tahun ini, dari tiga kota Indonesia yang menjadi anggota TPO, yakni Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta hanya Yogyakarta yang mendapatkan penghargaan. Penghargaan ini tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi dunia pariwisata di Yogyakarta.


“Walau begitu, bukan berarti kami puas dengan prestasi ini. Kami justru akan menjadi pelecut untuk terus mengembangkan dan mengenalkan pariwisata, bukan hanya di Yogyakarta, tetapi di DIY,” kata Artin di Aula Humas Pemkot Yogyakarta.


Artin menjelaskan, penghargaan yang pernah diterima Yogyakarta dari TPO, di antaranya The Best Public Relations pada 2009, The Best Campaign pada 2010, dan The Best Website  pada 2011.  TPO sendiri merupakan sebuah organisasi pariwisata yang beranggotakan 70 kota dari sembilan negara di Asia Pasifik serta 32 lembaga non pemerintahan.


“Sembilan negara anggota TPO, adalah Rusia, Thailand, Vietnam, China, Korea, Malaysia, Jepang, Filiphina, dan Indonesia,” terangnya.


Ketua BP2KY Deddy Pranawa Eryana mengatakan, penghargaan tersebut bukan hanya berdampak pada pariwisata di Yogyakarta, juga DIY dan Indonesia pada umumnya. Sebab, masih banyak wisatawan mancanegara (wisman) yang mengenal Indonesia sebatas Bali. Bahkan, tak sedikit wisman lebih mengenal Bali daripada Indonesia.


“Selain semakin mengenalkan pariwisata Yogyakarta, penghargaan ini diharapkan dapat memicu stakeholder dan pelaku wisata di DIY, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan warga,” harapnya.


Namun begitu, ada beberapa kendala untuk mewujudkan hal tersebut,  di antaranya jenis objek wisata yang ada di Yogyakarta masih sangat terbatas. Ini berpengaruh pada lamanya kunjungan wisatawan, sebab dalam sehari saja tempat-tempat tersebut bisa selesai dikunjungi.


“Karena itu, perlu adanya objek wisata alternatif untuk kunjungan wisata ini, bukan hanya di Yogyakarta, namun juga di objek wisata lain yang ada di DIY,” jelasnya.


Menurut Dedy, untuk mewujudkan hal tersebut, selain dengan menjalin komunikasi dengan berbagai komunitas yang ada, diperlukan juga menjalin kerjasama dengan kabupaten lain. Komunitas diajak untuk menggelar event di Yogyakarta dan kunjungan daerah lain, sebagai wisata alternatif.


“Dengan cara ini, diharapkan lama tinggal wisatawan di Yogyakarta bisa diperpanjang,” tandasnya.


Kepala Seksi Kerja Sama Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Yogyakarta Budiyono mengatakan mendukung pengembangan pariwisata tersebut, salah satunya dengan menggelar kegiatan seni budaya. Namun, karena keterbatasan, pentas seni untuk sementara masih belum dapat dilaksanakan di semua tempat.


“Untuk saat ini, untuk pentas seni dipusatkan di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, yaitu pentas Klangenan Yogyakarta yang digelar pada Minggu terakhir tiap bulan,” ungkapnya.
(Koran SI / Priyo Setyawan / ftr)

0 komentar:

Posting Komentar